Tuesday, September 12, 2017

MODEL PEMBELAJARAN KONVERGEN (Penemuan Terpimpin)



MODEL PEMBELAJARAN KONVERGEN
(Penemuan Terpimpin)


Mohammad Syamsul Anam
Dr. Roesdiyanto, M.Kes
Model-Model Pembelajaran Pendidikan Olahraga
Pendidikan Olahraga, Pascasarjana
Universitas Negeri Malang


Abstrak: Proses belajar mengajar dalam PJOK yang dilakukan sebagian masih berpusat pada guru saja artinya guru hanya memberikan beban gerak kepada siswa, Hal tersebut membuat siswa aktif dalam proses geraknya tetapi siswa tidak mampu untuk menemukan konsep atau gagasan mengenai gerak yang akan dilakukan. Diharapkan siswa dapat menemukan konsep atau gagasan baru baik itu pengetahuan atau ketrampilan melalui proses pembelajaran. Gaya mengajar konvergen guru memberikan serangkaian pertannyan yang jawabannya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan, jawaban dari siswa tersebut dianggap sebuah penemuan (konsep, gagasan) dalam hal pengetahuan atau ketrampilan.

Kata Kunci: Konvergen.

Metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran sangat menentukan tingkat keberhasilan peserta didik dalam memahami pelajaran. Dalam hal ini guru berperan penting sebagai fasilitator penentu metode pembelajaran dalam pembentukan pola pikir dan pemahaman siswa yang berkualitas. Keberhasilan dunia pendidikan kita nampaknya masih terhambat oleh beberapa kendala. Salah satu diantaranya adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Pembelajaran di kelas masih diarahkan pada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin akan aplikasi (Sanjaya, 2006:1). Tetapi hal tersebut terbanding terbalik dalam proses pembelajaran pendidikan jasamni olahraga dan kesehatan yang lebih mengutamakan pendidikan melalui gerak atau aktivitas fisik. Jika kita menghubungkan kembali dengan definisi pendidikan, dimana pendidikan merupakan suatu proses  bimbingan untuk perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok yang dilakukan secara sadar dalam rangka pendewasaan manusia dan pembentukan pribadi yang mandiri serta kesempurnaan secara jasmani dan rohani (Supriyoko, 2007:37), tentunya perlu dilakukan perubahan metode pembelajaran yang bermuara pada tercapainya tujuan pendidikan tersebut.
Pendidikan dalam prakteknya, tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan belajar, yaitu kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Dengan kata lain berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik. Menurut Irwanto (1997:105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan. Sedangkan proses belajar mengajar dalam PJOK yang dilakukan sebagian guru masih berpusat pada guru saja artinya guru hanya memberikan beban gerak kepada siswa, Hal tersebut membuat siswa aktif dalam proses geraknya tetapi siswa tidak mampu untuk menemukan konsep atau gagasan mengenai gerak yang akan dilakukan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mata pelajaran PJOK di Indonesia dianggap sebagai kegiatan belajar yang hanya berfokus dalam kegiatan olahraga atau gerak fisik. Padahal menurut Bhucer (1989:13) ”Physical education an integral part of the total education process, is a field of endeavor that has as its aim the improvement of human performance through the medium of physical activities that have been selected with a view to realizing this outcome”, artinya pendidikan jasmani, merupakan bagian integral dari proses pendidikan total, adalah bidang usaha yang memiliki tujuan peningkatan kinerja manusia melalui media kegiatan fisik yang telah dipilih dengan maksud untuk mewujudkan hasil.
Berdasarkan hal tersebut perlu diketahu bahwasanya ada model pembelajaran atau gaya mengajar yang membuat siswa mampu menemukan sebuah konsep atau gagasan. Metode pembelajaran penemuan adalah suatu metode pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi-informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryabrata, 1997). Maka dari itu perlu diketahui bagaimana model pembelajaran penemuan terpimpin atau konvergen dilaksanakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga.

Model Pembelajaran Penemuan Terpimpin
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund "discovery adalah proses mental di mana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip". Proses mental tersebut ialah mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya (Roestiyah, 2001:20). Sedangkan menurut Jerome Bruner "penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau iten pengetahuan tertentu". Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan (Markaban, 2006:9).
    Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat "menemukan" prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru (PPPG,2004:4). Metode pembelajaran penemuan adalah suatu metode pembelajaran dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi-informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau diceramahkan saja (Suryabrata, 1997). Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing (Ali, 2004:87). Metode pembelajaran ini merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan melalui proses menemukan.
Fungsi pengajar disini bukan untuk menyelesaikan masalah bagi peserta didiknya, melainkan membuat peserta didik mampu menyelesaikan masalah itu sendiri (Hudoyo, 1988:114). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model penemuan terbimbing adalah model pembelajaran yang di mana siswa berpikir sendiri sehingga dapat "menemukan" prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan. Menurut Markaban (2006:11-15) Di dalam model penemuan ini, guru dapat menggunakan strategi penemuan yaitu secara induktif, deduktif atau keduanya. Dengan penjelasan di atas model penemuan yang dipandu oleh guru ini kemudian dikembangkan dalam suatu model pembelajaran yang sering disebut model pembelajaran dengan penemuan terbimbing. Gaya belajar penemuan terpimpin disusun sedemikian rupa, sehingga guru harus menyusun serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menuntut adanya serangkaian jawaban-jawaban yang telah ditentukan sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun guru ini hanya ada satu yang jawaban saja yang dianggap benar. Rangkaian pertanyaan-petanyaan tersebut harus menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau gagasan-gagasan.
Menurut Eggen & Kauchak (2016:177) model ini efektif untuk mendorong keterlibatan dan motivasi siswa seraya membantu mereka mendapatkan pemahaman mendalam tentang topik-topik yang jelas.  Saat menggunakan model temuan terbimbing, guru memberikan contoh kepada siswa dengan menggambarkan materi yang ingin dipahami oleh siswa. Perlu diingat bahwa model ini memerlukan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan 'mengkonstuksi' sendiri konsep atau pengetahuan tersebut (PPPG, 2004:5).

Merencanakan Pembelajaran Dengan Model Konvergen
Merencanakan pembelajaran menggunakan model konvergen melibatkan 3 langkah penting, yang digambarkan dalam gambar dibawah ini.

Organization Chart
Gambar 1. Merencanakan Pembelajaran Dengan Model Konvergen
(sumber: Eggen & Kauchak, 2016:182)

Menerapkan Pembelajaran Menggunakan Model Temuan Terbimbing
            Setelah mengientifikasi topik, menentukan tujuan dan memilih atau membuat contoh, selanjutnya adalah memuali pelajaran. Menurut Eggen & Kauchak (2016:190) menerapkan pembelajaran menggunakan model temuan terbimbing melalui 4 fase yang saling berkaitan. Fase-fase tersebut dan deskripsinya dipaparkan dalam tabel 1.

Tabel 1. Fase-Fase Dalam Pelajaran Menggunakan Model Temuan Terbimbing.
Fase
Deskripsi
Fase 1 : Pendahuluan
Guru berusaha menarik perhatian siswa dan menentukan fokus pelajaran
Fase 2 : Fase Terbuka
Guru memberikan contoh dan meminta siswa untuk mengamati dan membandingkan contoh-contoh
Fase 3 : Fase Konvergen
Guru menanyakan pertanyaan-pertanyaan lebih spesifik yang dirancang untuk membimbing sisawa dalam mencapai pemahaman konsep atau gagasan
Fase 4 : Penutup dan Penerapan
Guru membimbing siswa memahami definisi suatu konsep atau peryataan generalisasi dan siswa menerapkan pemahaman mereka kedalam konteks baru
Sumber : Eggen & Kauchak (2016:190)

Sasaran Gaya Penemuan Terpimpin
Sasaran model pembelajaran sebagai berikut: (1) melibatkan siswa dalam proses penemuan yang konvergen, (2) mengembangkan hubungan yang serasi dan tepat antara jawaban siswa dengan pertanyaan yang diajukan oleh guru, (3) mengembangkan keterampilan untuk menemukan jawaban yang berurut, yang akan menuju pada penemuan konsep, (4) mengembangkan kesabaran guru dan siswa, karena sifat sabar sangat diperlukan dalam proses penemuan.

Anatomi Gaya Penemuan Terpimpin
Pra pertemuan            G         G
Dalam pertemuan       S          G         S
Pasca pertemuan       S          G         S
(1) Keputusan pada pra pertemuan yang dibuat oleh guru akan memusatkan perhatian pada pengembangan pertanyaan secara cermat, yang akan mengarahkan siswa kepada penemuan informasi yang bersifat khusus, (2) Selama pertemuan berlangsung siswa membuat keputusan yang  menyangkut materi pembelajaran, dalam usahanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh guru, (3) Pada pasca pertemuan, guru mengukuhkan atau mengarahkan kembali jawaban siswa terhadap pertanyaan yang telah diajukan.

Penerapan Gaya Penemuan Terpimpin
Penerapan gaya penemuan terpimpin sebaga berikut: (1) Dalam penyusunan pertanyaan bagi siswa, guru harus mengenali prinsip, gagasan, atau konsep yang akan ditemukan. Selanjutnya baru menyusun pertanyaan- pertanyaan yang akan membawa siswa ke rangkaian tanggapan yang menuju pada gagasan tersebut. Untuk itu perlu dimulai dari jawaban akhir, terus mundur sampai pada pertanyaannya, (2) Dalam situasi mengajar yang sesungguhnya, guru harus mengikuti prosedur berikut: (a) menyampaiakn pertanyaan sesuai dengan susunan, (b) beri waktu untuk jawaban dari siswa, (c) berikan umpan balik (netral atau menilai) yang membenarkan jawaban yang benar atau mengarahkannya kembali, (d) ajukan pertanyaan berikutnya (e) jangan berikan jawaban, (f) bersikap sabar dan menerima, (3) Merencanakan: (a) mengenali materi pembelajaran yang khusus, (b) menentukan urutan langkah-langkah (pertanyaan dan petunjuk) menuju ke hasil akhir: setiap langkah didasarkan atas jawaban sebelumnya, perlu mengharapkan kemungkinan jawaban yanag akan diberikan oleh siswa, dan mengarahkan kembali jawaban yang tidak tepat, (4) Yang harus dilakukan jika jawaban tidak benar: (a) ulangi  pertanyaan/petunjuknya. Kalau masih salah ajukan pertanyaan lain yang menguatkan/menjabarkannya, (b) Beri siswa waktu untuk memikir jawabannya

Implikasi Gaya Penemuan Terpimpin
Impelentasi dalam pembelajaran sebagi berikut: (1) gaya ini menuntut  guru untuk menyediakan waktunya dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan yang memaksa siswa untuk berpikir, (2) tanggung jawab untuk menemukan merupakan kegiatan utama siswa, (3) siswa memerlukan waktu untuk  menyesuaikan diri dengan tanggung jawab baru ini.

Pokok Bahasan
(1) Jenis-jenis informasi yang perlu ditemukan adalah: konsep, prinsip, kaidah, hubungan, bagaimana, mengapa, dan batasan-batasan, (2) Topik tidak boleh diketahui oleh siswa sebelumnya, kalau tidak, maka siswa tidak akan memperoleh penemuan, (3) Episode-episode gaya ini dapat  digunakan untuk gaya yang lain. Dapat juga digunakan pada waktu memberi umpan balik kepada masing-masing siswa, (4) Yang paling baik adalah episode yang paling pendek, (5) Ada baiknya menyusun pertanyaan-pertanyaan tersebut sedemikian rupa, sehingga siswa harus mengerjakan jawaban secara fisik. Dengan demikian siswa dapat menggunakan gerakan sebagai media penemuan.

KESIMPULAN
            Model pembelajaran penemuan terpimpin atau konvergen adalah model pembelajaran yang dilakukan melalui rangkaian pertanyaan-petanyaan yang menghasilkan serangkaian jawaban-jawaban yang mengarah kepada penemuan konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau gagasan-gagasan.

DAFTAR RUJUKAN
.....................................

No comments:

Post a Comment