Tuesday, September 12, 2017

OLAHRAGA KESEHATAN MENCEGAH SINDROM METABOLISME DAN PENYAKIT DEGENERATIF



OLAHRAGA KESEHATAN MENCEGAH SINDROM METABOLISME DAN PENYAKIT DEGENERATIF


Mohammad Syamsul Anam
Program Studi Pendidikan Olahraga
Pascasarjana Universitas Negeri Malang


Abstrak: Penyakit-penyakit yang muncul karen kurang aktivitas olahraga adalah seperti Sindrom Metabolisme (SM) dan penyakit degeneratif. Perlu peanganan bagaimana pencegahan sindrom metabolisme, dan penyakit degeratif melalui kegiatan olahraga kesehatan. Kegiatan olahraga kesehatan telah terbukti dapat meningkatkan unsur-unsur kekebalan (antibody) dalam tubuh, sehingga secara umum pelaku-pelaku olahraga kesehatan memang tidak mudah sakit.

Kata Kunci: Olahraga, Sindrom Metabolisme, Penyakit Degeneratif.



Sehat adalah kebutuhan dasar bagi setiap aktivitas kehidupan, kesehatan harus selalu dipelihara dan ditingkatkan. Cara termurah yang dapat dilakukan untuk memelihara kesehatan melalui olahraga. Pembinaan mutu sumber daya manusia mengacu kepada konsep sejahtera paripurna yaitu Konsep Sehat Organisasi Dunia (WHO) yang mengemukakan bahwa sehat adalah sejahtera jasmani, rohani dan sosial, dan bukan hanya terbebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan.
Tujuan pembinaan dan pemeliharaan kesehatan adalah memelihara dan meningkatkan kemandirian dalam kehidupan bio-psiko-sosiologisnya, yaitu secara biologis menjadi (lebih) mampu menjalani kehidupan pribadinya secara mandiri, tidak tergantung pada bantuan orang lain. Secara psikologis menjadi (lebih) mampu memposisikan dalam hubungannya dengan Tuhan beserta seluruh ciptaanNya berupa flora dan fauna (termasuk manusia) dan secara sosiologis menjadi (lebih) mampu bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya. Meningkatnya sikap mandiri dalam kehidupan bio-psiko-sosiologis ini berarti meningkatnya kemampuan dan kualitas hidup yang berarti juga meningkatnya kesejahteraan yang senantiasa harus mencapai ketiga aspek sehatnya WHO.
Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rohaniah dilakukan dengan upaya menunjukkan dan menyadarkan posisi dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan semesta alam beserta seluruh ciptaanNya, serta dengan menanamkan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan sebaik-baiknya dan percaya diri yang tinggi namun rendah hati. Perlu juga ditanamkam kesadaran untukn melakukan upaya-upaya untuk menyegarkan suasana kehidupan, mencerdaskan kemampuan pikiran intelektual dan menghilangkan strees, disamping itu juga meningkatkan volume dan kualitas pemahaman dalam kehidupan beragama beserta peningkatan kualitas pelaksanaan ibadahnya.
Olahraga baik sebagai kegiatan maupun sebagai media pendidikan mempunyai potensi yang besar untuk menyumbangkan kontribusinya dalam masalah ini. Melalui olahraga dapat dengan mudah ditunjukkan betapa terbatasnya kemampuan manusia, betapa perlu kita memelihara lingkungan hidup kita, betapa banyak hal yang diluar kemampuan akal manusia dan betapa perlu kita mencegah kerusakan dan perbutan-perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi. Kesejahteraan jasmani ditingkatkan dengan olahraga kesehatan, untuk meningkatkan derajat kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam peri kehidupannya sehari-hari (sehat dinamis).
Olahraga umumnya bersifat masal sehingga lebih menarik, semarak serta menggembirakan (aspek rohaniah), seperti yang terjadi pada pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga di lembaga-lembaga pendidikan. Berkelompok merupakan sarana dan rangsangan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial karena masing-masing individu akan bertemu dengan sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada olahraga akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status intelektual dan sosial ekonomi para pelakunya. Oleh karena itu olahraga hendaknya menjadi materi pokok dalam Pendidikan Jasmani di sekolah-sekolah maupun pesantren. Dampak psikologis yang sangat positif dengan diterapkannya materi olahraga di sekolah adalah rasa kebersamaan dan kesetaraan diantara sesama siswa, sebab mereka merasa mampu melakukan olahraga dengan baik. Sebaliknya, bila olahraga menjurus kearah olahraga prestasi diterapkan di sekolah maka dapat menyebabkan sebagian siswa merasa terpinggirkan dari kegiatan olahraga karena merasa tidak mampu berprestasi.
Gemar dan senang  berolahraga mencegah penyakit, hidup menjadi sehat dan nikmat. Malas berolahraga artinya mengundang penyakit. Tidak berolahraga berarti menelantarkan diri. Kesibukan, keasyikan dan kehausan dalam kehidupan “duniawi”, sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit dari non-infeksi (penyakit bukan oleh karena infeksi) sampai penyakit infeksi. Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia muda, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan olahraga dan tidak menjalankan pola hidup sehat. Mayoritas orang memiliki kebiasaan olahraga yang tidak teratur, yaitu sebesar (89,6%) dari 100 responden. Sedangkan responden yang memiliki kebiasaan olahraga teratur hanya berjumlah 7 responden (10,4%) (Wulandari, Isfandiari, 2013).
Penyakit-penyakit yang muncul adalah seperti Sindrom Metabolisme (SM) dan penyakit degeneratif. Data epidemiologi menyebutkan prevalensi SM dunia adalah 20–25%. Hasil penelitian Framingham Offspring Study menemukan bahwa pada responden berusia 26–82 tahun terdapat 29,4% pria dan 23,1% wanita menderita SM. Sedangkan penelitian di Perancis menemukan prevalensi SM sebesar 23% pada pria dan 21% pada wanita. Data dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) menunjukkan prevalensi SM sebesar 13,13%. Sedangkan penyakit degeneratif seperti kanker (Neoplasma diseases) merupakan sumber penyakit yang paling besar (40%) penyebab kematian manusia. Yang nomor dua adalah penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah yaitu sebesar 39%, Sedangkan hati (sirosis) dan gula (diabetes) hanya masing-masing menyumbang dibawah 2%.
Dampak lebih lanjut dari rasa “terpinggirkan” adalah timbulnya kebencian terhadap olahraga. Kondisi demikian merupakan kondisi psikologis yang sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan dan penyebarluasan olahraga kesehatan di masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik maka suasana melakukan olahraga, akan sangat meningkatkan gairah dan semangat hidup para pelakunya, dengan demikian potensi olahraga sangat perlu dipahami semua pihak yang berkepentingan dalam pembinaan peserta didik bahkan sampai kesehatan masyarakat luas.
Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas tujuan dari penulisan makalah diharapkan pembaca mengerti tentang pencegahan sindrom metabolisme, dan penyakit degeratif melalui olahraga kesehatan.

Kegiatan Olahraga dan Olahraga Kesehatan
Olahraga merupakan aktivitas fisik yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran jasmani seseorang. Menurut Giriwijoyo, Sidik (2013:37) olahraga adalah Serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk meningkatkan kemampuan fungsionalnya. Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan atau pertandingan.
Hakikat persyaratan yang harus dipenuhi manusia untuk dapat berpartisipasi dalam olahraga pada umumnya adalah mereka yang sehat, mereka yang ingin memelihara kesehatannya dan meningkatkan derajat kesehatannya, dan mereka yang ingin berpartisipasi dalam cabang olahraga. Olahraga dibagi bedasarkan sifat atau tujuannya yaitu: Olahraga prestasi sebagi tujuan dan olahraga prestasi, olahraga kesehatan, olahraga pendidikan sebagai alat mencapai tujuan. Ditinjau dari segi jumlahnya, maka olahraga dapat dibagi menjadi olahraga: Perorangan     dilakukan 1 – 4 orang, kelompok dilakukan 6 – 22 orang, massal    dilakukan > 22 orang.
Olahraga kesehatan adalah olahraga untuk memelihara dan untuk meningkatkan derajat kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari (sehat dinamis) yang bersifat rutin, maupun untuk keperluan rekreasi atau mengatasi keadaan gawat-darurat.
Olahraga kesehatan ialah suatu bentuk kegiatan olahraga untuk tujuan kesehatan. Sebagai suatu kegiatan olahraga, jelas ia menggarap raga atau jasmani (aspek jasmani). Sifat atau ciri umum olahraga kesehatan menurut Giriwijoyo, Sidik (2013:39) adalah sebagi berikut: (1) Massal, olahraga kesehatan harus mampu menampung sejumlah besar peserta secara bersama-sama. (2) Mudah, gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dalam jumlah banyak (besifat massal), yang dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar, yaitu gerak yang diperlukan untuk kegiatan hidup sehari-hari. (3) Murah, peralatan sangat minim atau bahkan tanpa peralatan sama sekali. (4) Meriah, mampu membangkitkan kegembiraan dan tidak membosankan (kepandaian pelatihanya. (5) Manfaat dan aman, manfaatnya jelas bisa dirasakan, serta aman dilakukan oleh setiap peserta dengan tingkat umur dan derajat sehat dinamis yang berbeda-beda, intensitas sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakaan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan).
Ahli kesehatan sepakat bahwa olahraga kesehatan dapat meningkatkan kebugaran jasmani yang ditandai dengan meningkatnya fungsi jantung, pembuluh darah, sirkulasi darah, sistem pernafasan dan proses metabolisme, serta kemampuan tubuh untuk menangkal bermacam-macam penyakit baik yang disebabkan oleh infeksi maupun bukan karena infeksi.
Pekik (2003:2-3) beberapa istilah yang sering dipergunakan seperti kebugaran, kesegaran, kesemaptaan dan fitness pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, meliputi kebugaran fisik, kebugaran mental, kebugaran emosi, dan kebugaran sosial atau diberi istilah total fitness. Secara umum yang dimaksud kebugaran adalah kebugaran fisik, yaitu kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul kelelahan yang berlebih sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya. Kebugaran digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu: (1) Kebugaran statis: keadaan seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat atau disebut sehat. (2) Kebugaran dinamis: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang tidak memerlukan keterampilan khusus, misalnya berjalan, berlari, melompat, mengangkat. (3) Kebugaran motoris: kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut keterampilan khusus. Misalnya seorang pemain sepak bola dituntut untuk berlari cepat sambil menggiring bola.
Manfaat kegiatan olahraga kesehatan adalah sebagi berikut: (1) meningkatkan kerja dan fungsi jantung, paru dan pembuluh darah yang ditandai dengan; (a) aerobik adalah olahraga yang dilakukan secara terus-menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh. Misalnya jogging, senam, renang, bersepeda. (b) anaerobik adalah olahraga dimana kebutuhan oksigen tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh tubuh seperti angkat besi, lari sprint 100m, tenis lapangan, bulu tangkis. Denyut nadi istirahat menurun, kapasitas bertambah, penumpukan asam laktat berkurang, meningkatkan pembuluh darah kolateral, meningkatkan hdl kolesterol, mengurangi aterosklerosis. (2) meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang yang ditandai pada; (a) pada anak : mengoptimalkan pertumbuhan, (b) pada orang dewasa: memperkuat masa tulang,menurunkan nyeri sendi kronis pada pinggang, punggung dan lutut. (3) meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) pada tubuh sehingga dapat mengurangi cedera. Meningkatkan metabolisme tubuh untuk mencegah kegemukan dan mempertahankan berat badan ideal. (4) mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit seperti; (a) tekanan darah tinggi; mengurangi tekanan sistolik dan diastolik. (b) penyakit jantung koroner; menambah hdl-kolesterol dan mengurangi lemak tubuh. (c) kencing manis; menambah sensitifitas insulin. (d) infeksi; meningkatkan sistem imunitas. (5) meningkatkan sistem hormonal melalui peningkatan sensitifitas hormon terhadap jaringan tubuh. (6) meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit melalui peningkatan pengaturan kekebalan tubuh. (7) penelitian kavanagh, latihan aerobik 3 kali seminggu selama 12 minggu, (a) meningkatkan pembuluh darah kolateral, (b) meningkatkan hdl kolesterol, (c) mengurangi aterosklerosis.
Menurut ryan (2015:6) meningkatkan kebugaran fisik secara keseluruhan, memiliki manfaat berikut: (1) mengurangi risiko beberapa penyakit. Misalnya, para ahli kesehatan menyarankan bahwa menjadi aktif dapat mengurangi resiko terkena stroke atau penyakit jantung sebesar 10%, dan diabetes tipe 2 sebesar 30-40%. (2) mengurangi risiko masalah kesehatan fisik seperti tubuh kita beradaptasi. Ketika kita menjadi lebih bugar, tubuh kita dapat lebih baik mengatur kami tingkat kortisol. Kortisol adalah 'hormon stres' yang melepaskan tubuh kita dalam menanggapi kecemasan; lebih dari waktu yang lama, kadar kortisol yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan termasuk jantung penyakit, tekanan darah tinggi, respon imun diturunkan, serta depresi dan kecemasan. (3) organ sehat. Saat anda aktif tubuh anda bekerja lebih, yang baik untuk organ tubuh anda. Misalnya, sebuah hati yang kuat akan membantu anda memiliki kolesterol dan tekanan darah rendah. (4) tulang sehat. Latihan angkat beban akan memperkuat anda tulang dan membangun otot anda, yang dapat mengurangi kesempatan anda mengembangkan osteoporosis.
Gemar berolahraga mencegah penyakit, hidup menjadi sehat dan nikmat. Malas berolahraga artinya mengundang penyakit. Tidak berolahraga berarti menelantarkan diri. Kesibukan, keasyikan dan kehausan dalam kehidupan “duniawi”, sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mengundang berbagai penyakit non-infeksi (penyakit bukan oleh karena infeksi). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia madya, tua dan lanjut, khususnya yang tidak melakukan olahraga dan tidak menjalankan pola hidup sehat. 
            Peran olahraga kesehatan dalam hubungannya dengan penyakit ini terutama terhadap golongan penyakit non-infeksi. Terhadap penyakit infeksi khususnya dalam keadaan akut, olahraga justru dapat membahayakan. Akan tetapi dalam keadaan sehat, olahraga kesehatan bahkan telah terbukti dapat meningkatkan unsur-unsur kekebalan (antibody) dalam tubuh, sehingga secara umum pelaku-pelaku olahraga kesehatan memang tidak mudah sakit. Namun deikian untuk mendapatkan kekebalan yang lebih spesifik terhadap suatu penyakit, masih tetap diperlukan pencegahan melalui vaksinasi. Ini yang perlu diperhatikan mengapa orang masih terkena influenza, demam tifus perut, dan penyakit-penyakit infeksi lainnya, walaupun ia telah melakukan olahraga kesehatan secara teratur.
Dosis olahraga, secara umum disarankan dalam durasi 30-60 menit setiap hari dan dapat dimodifikasi sesuai pertimbangan tertentu. Apabila baru memulai, dapat diawali dengan durasi 15 menit yang kemudian terus ditingkatkan setiap hari dan dipertahankan pada durasi waktu yang ingin dicapai. Masalahnya, 60 menit berjalan santai tentu saja berbeda dengan 60 menit lari santai dan berbeda lagi dengan 60 menit lari cepat. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan dosis olahraga untuk masing-masing individu, yang dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, genetik, dan fungsi kardiorespirasi sebelumnya. Olahraga yang terlalu berlebihan, sama halnya dengan olahraga yang tidak adekuat tentu saja tidak akan membawa manfaat.
Terdapat beberapa cara untuk menghitung dosis olahraga. Paling sederhana dengan mengukur nadi (yang bisa diraba di pergelangan tangan) atau denyut jantung. Selama olahraga, ada target denyut jantung yang harus dicapai. Ada pula target denyut jantung maksimal yang diperbolehkan. Cara menghitungnya yaitu 220 - usia. Sebagai contoh, olahraga untuk orang berusia 30 tahun. Maka target denyut jantung maksimal selama olahraga yang diizinkan adalah 220 - 30 = 190 kali/menit.
Angka ini dikurangi dengan denyut jantung saat istirahat. Misalnya denyut jantung saat istirahat adalah 80 kali/menit, berarti 190 - 80 = 110 kali/menit. Kita ambil angka kisaran olahraga sebesar 70% (untuk olahraga aerobik, kisaran nilai bervariasi antara 45-85), yang artinya 70% dari 110 kali/menit yakni 77 kali/menit. Maka, target denyut jantung selama olahraga yang ideal untuk orang tersebut adalah angka tersebut ditambah dengan denyut jantung istirahat, yakni 77 + 80 = 157 kali/menit.

Sindrom metabolisme
Sindroma metabolik atau dikenal dengan metabolic syndrome (mets) adalah sebuah sebutan untuk sekelompok kelainan dengan berbagai konsekuensi klinis, yang ditandai dengan adanya gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dislipidemia, hipertensi, kelainan koagulasi dan obesitas visceral. Sindroma metabolik merupakan suatu kumpulan faktor risiko metabolik yang berkaitan langsung terhadap terjadinya penyakit kardiovaskuler artherosklerotik. Faktor risiko tersebut antara lain terdiri dari dislipidemia atherogenik, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar glukosa plasma, keadaan prototrombik, dan proinflamasi (widjaya, 2004).
Sindrom metabolik (sm) adalah kondisi dimana seseorang memiliki tekanan darah tinggi, obesitas sentral dan dislipidemia, dengan atau tanpa hiperglikemik. Ketika kondisi-kondisi tersebut berada pada waktu yang sama pada satu orang, maka orang tersebut memiliki risiko yang tinggi terhadap penyakit macrovasculer (who, 2000).
Sindrom metabolik dikenal dengan berbagai nama. Perhatian medis pertama yaitu pada tahun 1923, ketika kylin memaparkan kelompok gout, hipertensi dan hiperglikemia. Yang kemudian sindrom metabolik pertama kali dijelaskan oleh jean vague pada tahun 1940, yang menghubungkan obesitas abdominal dengan abnormalitas metabolik. Tiga dekade kemudian, yaitu pada tahun 1970 gerald phillips menyatakan bahwa umur, obesitas dan sex hormon dihubungkan dengan manifestasi klinis, yang sekarang disebut sindrom metabolik dan dihubungkan dengan penyakit jantung.
Akhirnya pada tahun 1988, gerald reaven mengajukan hipertensi, hiperglikemia, intoleransi glukosa, peningkatan trigliserida, dan kolesterol hdl yang rendah dan dinamakan kumpulan abnormalitas sindrom-x. Yang akhirnya pada tahun 1998 the world health organization mengajukan nama “metabolic sindrom” yang didefinisikan dengan adanya 2 atau lebih abnormalitas metabolik (pada pasien diabetes) atau resistensi insulin dengan 2 atau lebih faktor-faktor dibawah (isomaa et al, 2001): (1) hipertensi dengan perlakuan atau tekanan darah >160 / >90 mmhg, (2) trigliserida ³150 mg/dl, (3) hdl <35 mg/dl pada laki-laki, atau <40 mg/dl pada perempuan, (4) rasio lingkar pinggang >0.90 pada laki-laki atau >0.85 pada wanita, (5) mikroalbuminuria
Kebanyakan menggunakan defenisi yang telah ditetapkan oleh World Hearth Organization (WHO) and the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III). Organisasi ini menganggap bahwa sindrom metabolik merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler disamping peningkatan kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL). Dislipidemia aterogenik (protrombotik state), Resistensi insulin, hipertensi, obesitas abdominal dan peningkatan marker inflamasi dianggap sebagai karakteristik yang menyolok dari sindrom metabolik (Pitsavos, 2006). 
Hingga saat ini ada 3 definisi SM yang telah diajukan, yaitu definisi World Health Organization (WHO), NCEP ATP-III dan International Diabetes Federation (IDF). Ketiga definisi tersebut memiliki komponen utama yang sama dengan penentuan kriteria yang berbeda. Pada tahun 1988, Alberti dan Zimmet atas nama WHO menyampaikan definisi SM dengan komponen - komponennya antara lain : (1) gangguan pengaturan glukosa atau diabetes (2) resistensi insulin (3) hipertensi (4) dislipidemia dengan trigliserida plasma > 150 mg/dL dan/atau kolesterol high density lipoprotein (HDL-C) < 35 mg/dL untuk pria; < 39 mg/dL untuk wanita; (5) obesitas sentral (laki-laki : waistto-hip ratio > 0,90; wanita: waist-to-hip ratio > 0,85) dan/atau indeks massa tubuh (IMT) > 30 kg/m2; dan (6) mikroalbuminuria (Urea Albumin Excretion Rate >20 mg/min atau rasio albumin/kreatinin > 30 mg/g). SM dapat terjadi apabila salah satu dari 2 kriteria pertama dan 2 dari empat kriteria terakhir terdapat pada individu tersebut, Jadi kriteria WHO 1999 menekankan pada adanya toleransi glukosa terganggu atau diabetes mellitus, dan atau resitensi insulin yang disertai sedikitnya 2 faktor risiko lain yaitu hipertensi, dislipidemia, obesitas sentral dan mikroalbuminaria (Adriansjah dan Adam, 2006).
Kriteria yang sering digunakan untuk menilai pasien SM adalah NCEP-ATP III, yaitu apabila seseorang memenuhi 3 dari 5 kriteria yang disepakati, antara lain: lingkar perut pria > 102 cm atau wanita > 88 cm; hipertrigliseridemia (kadar serum trigliserida > 150 mg/dL), kadar HDL-C < 40 mg/dL untuk pria, dan < 50 mg/dL untuk wanita; tekanan darah > 130/85 mmHg; dan kadar glukosa darah puasa > 110 mg/dL. Suatu kepastian fenomena klinis yang terjadi yaitu obesitas sentral menjadi indikator utama terjadinya SM sebagai dasar pertimbangan dikeluarkannya diagnosis terbaru oleh IDF tahun 2005. Seseorang dikatakan menderita SM bila ada obesitas sentral (lingkar perut > 90 cm untuk pria Asia dan lingkar perut > 80 cm untuk wanita Asia) ditambah 2 dari 4 faktor berikut : (1) Trigliserida > 150 mg/dL (1,7 mmol/L) atau sedang dalam pengobatan untuk hipertrigliseridemia; (2) HDL-C: < 40 mg/dL (1,03 mmol/L) pada pria dan < 50 mg/dL (1,29 mmol/L) pada wanita atau sedang dalam pengobatan untuk peningkatan kadar HDL-C; (3) Tekanan darah: sistolik > 130 mmHg atau diastolik > 85 mmHg atau sedang dalam pengobatan hipertensi; (4) Gula darah puasa (GDP) > 100 mg/dL (5,6 mmol/L), atau diabetes tipe 2. Hingga saat ini masih ada kontroversi tentang penggunaan kriteria indikator SM yang terbaru tersebut (IDF, 2005).
Kriteria diagnosis NCEP- ATP III menggunakan parameter yang lebih mudah untuk diperiksa dan diterapkan oleh para klinisi sehingga dapat dengan lebih mudah mendeteksi sindroma metabolik. Yang menjadi masalah adalah dalam penerapan kriteria diagnosis NCEP-ATP III adalah adanya perbedaan nilai “normal” lingkar pinggang antara berbagai jenis etnis. Oleh karena itu pada tahun 2000 WHO mengusulkan lingkar pinggang untuk orang Asia ≥ 90 cm pada pria dan wanita ≥ 80 cm sebagai batasan obesitas sentral.
Belum ada kesepakatan kriteria sindroma metabolik secara international, sehingga ketiga definisi di atas merupakan yang paling sering digunakan. Tabel 1 berikut menggambaran perbedaan ketiga definisi tersebut.


Tabel 1. Kriteria diagnosis Sindrom metabolik menurut WHO (World Health Organization), NCEP-ATP III dan IDF
Komponen
Kriteria diagnosis WHO:
Resistensi insulin plus :
Criteria diagnosis ATP III : 3 komponen di bawah ini
IDF
Obesitas abdominal/ sentral
Waist to hip ratio :
Laki-laki : > 0,9
Wanita : > 0,85 atau
IMB >30 Kg/m
Lingkar perut :
Laki-laki: 102 cm
Wanita : >88 cm
Lingkar perut :
Laki-laki: ≥90 cm
Wanita : ≥80 cm
Hiper-trigliseridemia
≥150 mg/dl (≥ 1,7 mmol/L)
≥ 150 mg/dl (≥1,7 mmol/L)
≥ 150 mg/dl

Hipertensi
TD ≥ 140/90 mmHg atau riwayat terapi anti hipertensif
TD ≥ 130/85 mmHg atau riwayat terapi anti hipertensif
TD sistolik ≥ 130 mmHg
TD diastolik ≥ 85 mmHg
Kadar glukosa darah tinggi
Toleransi glukosa terganggu, glukosa puasa terganggu,resistensi insulin atau DM
≥ 110 mg/dl
GDP ≥ 100mg/dl
Mikro-albuminuri
Rasio albumin urin dan kreatinin 30 mg/g atau laju eksresi albumin 20 mcg/menit




Prevalensi obesitas telah meningkat secara dramatis di Amerika Serikat, dan juga di berbagai negara di dunia. Telah diketahui bahwa obesitas berhubungan dengan penyakit vaskular dan berkenaan dengan Sindrom Metabolik. Data epidemiologi menyebutkan prevalensi SM dunia adalah 20–25%. Hasil penelitian Framingham Offspring Study (dalam HISOBI) menemukan bahwa pada responden berusia 26–82 tahun terdapat 29,4% pria dan 23,1% wanita menderita SM. Sedangkan penelitian di Perancis menemukan prevalensi SM sebesar 23% pada pria dan 21% pada wanita. Data dari Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) menunjukkan prevalensi SM sebesar 13,13%.
Terdapat berbagai macam jenis olahraga yang dapat dilakukan, dari olahraga yang ringan, sedang hingga berat. Olahraga fisik memiliki 4 komponen dasar yaitu kekuatan otot, daya tahan otot, fleksibilitas dan daya tahan kardiorespi (Syatria, A. 2006). Olahraga kardio/jantung/aerobik akan bermanfaat pada ketahanan daya tahan jantung, paru, peredaran darah, otot-otot dan sendi-sendi. Oleh karena itu, olahraga aerobik dapat disarankan untuk penderita hipertensi karena olahraga aerobik dapat menurunkan tekanan sistolik dan tekanan diastolik pada pasien. Dalam Sharman, J.E., Stowasser, M., 2009 disebutkan bahwa studi olahraga aerobik menunjukkan hasil bahwa olahraga memiliki tingkat kemampuan yang tinggi dalam menjaga perkembangan dari hipertensi pada pria. Olahraga aerobik juga menimbulkan efek seperti obat beta blocker yang dapat meredam dan menenangkan sistem saraf simpatikus dan melambatkan denyut jantung. Jenis olahraga yang efektif dalam menurunkan tekanan darah adalah olahraga dengan intensitas sedang (70-80%), dengan frekuensi latihannya 3-5 kali seminggu dalam rentang waktu 20-60 menit sekali latihan. Selain olahraga aerobik, olahraga kekuatan otot (resistance axercise) juga dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga ini dapat dikombinasikan dengan olahraga aerobik untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pengobatan.
Rekomendasi olahraga menurut Sharman, J.E., Stowasser, M., 2009 untuk penderita hipertensi berdasarkan FITT (Frekuensi, Intensitas, Time (waktu), Tipe) adalah sebagai berikut:


Tabel 2 Rekomendasai Olahraga Untuk Penderita Hipertensi
Tipe Olahraga
Intensitas
Time (waktu)
Frekuensi
Aerobik (endurance) Berjalan
Jogging

Sedang : 40-60% HHR atau 12-13 RPE Atau
Berat : 60-84% HHR atau 14-16 RPE
30 menit
20 menit

5 hari/minggu
3 hari/minggu

Resistensi (peregangan) otot Latihan beban secara progresif menggunakan otot otot utama Latihan anak tangga
1 set
8-10 kali latihan

2 hari atau lebih/minggu dengan hari yang tidak berurutan
Sumber : Sharman, J.E., Stowasser, M., 2009


Olahraga diatas akan sangat berpengaruh dalam status tekanan darah pada penderita, karena dalam hal ini tekanan darah sangat memegang peranan penting dalam penentuan olahraga yang dilakukan oleh penderita. Selain itu juga terdapat peresepan untuk latihan kekuatan otot jantung atau latihan aerobik dan peresepan latihan resistensi bagi penderita hipertensi, yaitu :


Tabel 3 Latihan Kardio Untuk Hipertensi
Frekuensi
3 – 7 hari per minggu
Intensitas
Intensitas sedang, 64 – 76 % HRmax
Skor 12-13 skala Borg Rating of Percieved Exertion (RPE) dengan rentang skor 6-20; dan skor 3-4 pada skala dengan rentang skor 1-10. RPE digunakan untuk memantau intensitas latihan karena respon hemodinamik terhadap latihan dapat berubah akibat obat anti-hipertensi.
Time (durasi)
30-60 menit secara terus-menerus per hari atau intermiten
Type (jenis)
Latihan aerobik

Table 4 Latihan Resistensi Untuk Hipertensi
Frekuensi
2-3 hari per minggu
Intensitas
Intensitas sedang, 60-80% 1RM
15-20 repetisi
Time (durasi)
1-2 set tiap latihan
8-10 latihan
Type (jenis)
Latihan yang berbeda yang menargetkan pada kelompok otot utama. Hindari latihan isometric dan menahan nafas (valsava maneuver) selama latihan


Selain olahraga yang di rekomendasikan untuk penderita hipertensi, ada pula olahraga dan aktifitas fisik yang tidak dianjurkan atau bahkan dilarang untuk penderita hipertensi. Adapun beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan boleh atau tidaknya seorang penderita hipertensi melakukan olahraga yang sudah direkomendasikan menurut Prasetyo, Y., sebagai berikut : (1) Penderita hipertensi dikontrol tanpa atau dengan obat terlebih dahulu tekanan darahnya, sehingga tekanan darah sistolik tidak melebihi 160 mmHg dan tekanan diastolic tidak melebihi 100 mmHg, Sebelum olahraga perlu mendapatkan informasi mengenai penyebab hipertensinya (2) Sebelum penderita hipertensi latihan sebaikanya melakukan uji latih jantung terlebih dahulu dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai rekasi tekanan jantung dan aktifitas kelistrikan listiknya (EKG). (3) Saat melakukan uji latih sebaiknya obat yang sedang dikonsumsi tetap dikonsumsi. (4) Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan. (5) Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan seperti angkat beban karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah secara mendadak.
Efek dari olahraga dapat memengaruhi tekanan darah pada seseorang terutama pada penderita hipertensi. Efek tersebut tidak secara langsung berpengaruh tetapi memengaruhi dengan cara intervensi ke tubuh serta kondisi pasien. Menurut hagberg. J m., park. J., brown. M d., 2000, efek-efek olahraga terhadap hipertensi sebagai berikut : (1) efek terhadap tekanan sistolik dan diastolic, latihan aerobik yang sesuai rekomendasi untuk penderita hipertensi telah dibuktikan dalam menurunkan tekanan darah yang meningkat. Latihan aerobik dapat menurunkan tekanan sistolik pada pendertia hipertensi sebanyak 70% dari keseluruhan sampel sebesar 10.5 mmhg atau setara penurunan dari 154 mmhg menjadi 143 mmhg. Sedangkan untuk penurunan tekanan diastolik pada 78% dari jumlah sampel sebesar 8,6 mmhg atau setara dari 98 mmhg menjadi 89 mmhg. (2)  efek pada jenis kelamin (gender), jenis kelamin antara pria dan wanita memiliki perbedaan terutama dalam produksi hormon esterogen. Hormone esterogen lebih identik terdapat pada wanita, hal tersebut ternyata berpengaruh pada kondisi tekanan darah seseorang yang juga akan berubah ketika seseorang melakukan olahraga. Dalam penelitian disebutkan bahwa wanita dengan peningkatan tekanan darah ketika melakukan olahraga secara rutin dapat membantu menurunkan hipertensi yang diderita. Wanita dengan olahraga tekanan diastoliknya menurun yaitu sekitar 10,5 mmhg daripada pada pria yang hanya sekitar 7,8 mmhg (hagberg. J m., park. J., brown. M d., 2000).  (3) efek pada umur, umur ternyata juga dapat membantu olahraga untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Dalam penelitian disebutkan bahwa pada interval umur 41-60 tahun lebih mudah terjadi penurunan tekanan darah dibanding pada umur yang lebih muda dengan rentang 21-40 tahun atau bahkan pada umur yang lebih tua. (4) efek pada intensitas latihan olahraga, intensitas olahraga juga dapat memengaruhi penurunan tekanan darah, terbukti pada orang yang melakukan olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang lebih efisien menurunkan tekanan darah dibandingkan dengan olahraga dengan intensitas tinggi. Olahraga intensitas rendah hingga sedang atau  ≤ 70% vo2max dapat menurunkan tekanan sistolik sekitar 50% dibandingkan dengan intensitas tinggi atau ≥ 70% vo2max. (5) efek pada panjangnya waktu olahraga, panjangnya waktu olahraga juga akan berpengaruh dalam penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi, semakin sering seseorang penderita hipertensi melakukan olahraga maka akan semakin cepat dan mudah pula penurunan tekanan darah. Dalam penelitian disebutkan bahwa jumlah panjang waktu olahraga 20 minggu secara rutin dapat menurunkan tekanan sistolik sebesar 11.1 mmhg dan tekanan diastolic sebesar 9,1 mmhg dibandingkan dengan panjang waktu olahraga yang hanya dilakukan 1-10 minggu secara rutin yang hanya sebesar 9,8 mmhg pada tekanan sistolik dan 8,4 mmhg pada tekanan diastolic. (6) efek pada penurunan berat badan, olahraga dapat membantu menurunkan berat badan pada seseorang terutama pada penderita hipertensi. Hal tersebut secara tidak langsung juga dapat menurunkan tekanan darah secra signifikan. Pengaturan diet untuk menurunkan berat badan yang dikombinasikan dengan olahraga secara teratur sesuai aturan dapat menurunkan tekanan sistolik sebesar 12,5 mmhg dan tekanan diastolik sebesar 7,9 mmhg.

Penyakit Degeratif
Penyakit degeneratif adalah penyakit yang mengiringi proses penuaan. Degeneratif merupakan proses berkurangnya fungsi sel saraf secara bertahap sehingga sel saraf yang sebelumnya berfungsi normal menjadi tidak normal bahkan bisa sama sekali tidak berfungsi, akibatnya penurunan daya tahan sel saraf dan mengakibatkan kematian sel.
Ada lebih dari 50 jenis penyakit yang termasuk dalam penyakit degeneratif, namun yang banyak dijumpai adalah penyakit jantung, diabetes, dan stroke yang merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang dewasa. Ketiga jenis penyakit ini seringkali dipacu dengan adanya pola hidup yang kurang sehat.
Penyebab umum timbulnya penyakit degeneratif adalah faktor usia, sehingga penyakit ini tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan. Untuk dapat mengendalikan penyakit ini salah satu caranya adalah menjaga kesehatan tubuh dengan gaya hidup sehat. Berusaha selalu beraktifitas fisik, istirahat yang cukup serta makan makanan bergizi seimbang dan hindari merokok baik perokok aktif maupun perokok pasif. Pengendalian lingkungan harus dilakukan pula secara terpadu, yaitu dengan memperhatikan sumber zat yang dikonsumsi baik air, makanan maupun udara sekitarnya.
Berdasarkan data dalam Tabel 1 diatas ternyata bahwa Kanker (Neoplasma diseases) (merupakan sumber penyakit yang paling besar (40%) penyebab kematian manusia. Yang nomor dua adalah penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah yaitu sebesar 39%, Sedangkan hati (sirosis) dan gula (diabetes) hanya masing-masing menyumbang dibawah 2%. Jadi penyakit kanker yang disebabkan oleh asap rokok merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian.


Tabel 5. Persentase kematian yang disebabkan oleh berbagai sebab macam penyakit di Inggris dan Wales yang berumur antara 35-69 tahun, pada tahun 1992.
Sumber: Doll (1995).


Berikut adalah beberapa faktor penting yang wajib diperhatikan oleh penderita penyakit degeneratif dalam melakukan olahraga: (1) frekuensi, seberapa sering seorang penderita dm harus melakukan olahraga? Menurut penelitian, penderita dm memang diwajibkan untuk sering melakukan olahraga. Penderita dm yang memiliki berat badan berlebih sangat dianjurkan untuk berolahraga setiap hari. Karena selain baik untuk membantu mengontrol gula darah, olahraga yang dilakukan setiap hari juga dapat membantu membakar kalori dan mengurangi lemak yang ada di dalam tubuh. (2) intensitas, intensitas dalam melakukan olahraga juga perlu diperhatikan oleh penderita dm. Namun sayangnya, masih banyak penderita dm yang belum mengetahui masalah intensitas ini. Intensitas yang dimaksud adalah peningkatan denyut jantung setelah melakukan olahraga. Penderita dm disarankan untuk melakukan olahraga sampai denyut jantungnya bertambah sebesar 50% hingga 75% dari denyut nadi normal. Oleh sebab itu, hitunglah terlebih dahulu berapa denyut jantung anda sebelum melakukan olahraga dan istirahatlah atau berhentilah melakukan olahraga jika denyut jantung anda sudah mencapai 50% hingga 75%. (3) durasi, olahraga memang sangat penting bagi tubuh terutama bagi penderita dm namun perlu diingat bahwa olahraga juga harus dilakukan sesuai dengan durasi yang disarankan. Karena olahraga yang dilakukan terlalu lama justru dapat menyebabkan masalah bagi penderita dm. Penderita dm disarankan untuk melakukan olahraga kurang lebih selama 20 hingga 60 menit. Namun khusus untuk penderita dm yang memiliki berat badan berlebih disarankan untuk melakukan olahraga selama 60 menit. (4) jenis olahraga , sebelum memulai olahraga, penderita dm juga harus mengetahui bahwa jenis olahraga juga perlu diperhatikan. Salah memilih jenis olahraga dapat menyebabkan masalah. Lakukan olahraga yang intensitasnya dapat dipantau seperti senam, renang, bersepeda, dan juga jalan kaki.

PEMBAHASAN
Sindroma Metabolik atau dikenal dengan metabolic syndrome (Mets) adalah sebuah sebutan untuk sekelompok kelainan dengan berbagai konsekuensi klinis, yang ditandai dengan adanya gangguan toleransi glukosa, resistensi insulin, dislipidemia, hipertensi, kelainan koagulasi dan obesitas visceral. Sindroma metabolik merupakan suatu kumpulan faktor risiko metabolik yang berkaitan langsung terhadap terjadinya penyakit kardiovaskuler artherosklerotik. Faktor risiko tersebut antara lain terdiri dari dislipidemia atherogenik, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar glukosa plasma, keadaan prototrombik, dan proinflamasi (Widjaya, 2004).
Sindrom metabolik (SM) adalah kondisi dimana seseorang memiliki tekanan darah tinggi, obesitas sentral dan dislipidemia, dengan atau tanpa hiperglikemik. Ketika kondisi-kondisi tersebut berada pada waktu yang sama pada satu orang, maka orang tersebut memiliki risiko yang tinggi terhadap penyakit macrovasculer (WHO, 2000). Pencegahan penyakit ini yaitu bagi yang memiliki faktor resiko genetik dan riwayat penyakit dalam keluarga, harus lebih dini dan lebih konsisten lagi untuk menjaga kesehatannya, serta harus melatih anak-anaknya untuk lebih aktif secara fisik agar mereka terhindar juga dari sindroma metabolik. Meningkatkan gerak tubuh dan olah raga secara rutin seperti; jogging, sepeda, berenang, yoga, dll
Penyakit degeneratif adalah penyakit yang mengiringi proses penuaan. Degeneratif merupakan proses berkurangnya fungsi sel saraf secara bertahap sehingga sel saraf yang sebelumnya berfungsi normal menjadi tidak normal bahkan bisa sama sekali tidak berfungsi, akibatnya penurunan daya tahan sel saraf dan mengakibatkan kematian sel. Ada lebih dari 50 jenis penyakit yang termasuk dalam penyakit degeneratif, namun yang banyak dijumpai adalah penyakit jantung, diabetes, dan stroke yang merupakan penyebab kematian nomor satu pada orang dewasa. Ketiga jenis penyakit ini seringkali dipacu dengan adanya pola hidup yang kurang sehat.
Penyebab umum timbulnya penyakit degeneratif adalah faktor usia, sehingga penyakit ini tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan. Untuk dapat mengendalikan penyakit ini salah satu caranya adalah menjaga kesehatan tubuh dengan gaya hidup sehat. Berusaha selalu beraktifitas fisik, istirahat yang cukup serta makan makanan bergizi seimbang dan hindari merokok baik perokok aktif maupun perokok pasif.
Aktivitas fisik dapat dikatakan kegiatan olahraga, olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak  (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Seperti halnya makan, olahraga merupakan kebutuhan hidup yang sifatnya periodik, artinya olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur  anatomis-antthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosional dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannnya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang tidak aktif mengikuti aktivitas olahraga (Watson: Children in Sport dalam Bloomfield, Fricker and Fitch, 1992).
Peran olahraga kesehatan dalam hubungannya dengan penyakit ini terutama terhadap golongan penyakit non-infeksi. Terhadap penyakit infeksi khususnya dalam keadaan akut, olahraga justru dapat membahayakan. Akan tetapi dalam keadaan sehat, olahraga kesehatan bahkan telah terbukti dapat meningkatkan unsur-unsur kekebalan (antibody) dalam tubuh, sehingga secara umum pelaku-pelaku olahraga kesehatan memang tidak mudah sakit (Giriwijoyo, Sidik, 2013:43). Namun demikian untuk mendapatkan kekebalan yang lebih spesifik terhadap suatu penyakit, masih tetap diperlukan pencegahan melalui vaksinasi. Ini yang perlu diperhatikan mengapa orang masih terkena influenza, demam tifus perut, dan penyakit-penyakit infeksi lainnya, walaupun ia telah melakukan olahraga kesehatan secara teratur.
Mencapai level yang lebih tinggi tentang aktivitas fisik dalam suatu populasi juga akan memberikan kontribusi secara tidak langsung dalam sektor penting khususnya kemajuan bagi pembangunan manusia dan kemajuan ekonomi (WHO, 2003). Risiko semua penyebab kematian berkurang 30% di antara mereka yang secara teratur aktif secara fisik (Department of Health, 2011). Olahraga dan aktivitas fisik dapat memainkan peran utama dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, kanker tertentu, diabetes tipe 2 dan obesitas (O’Donovan, dkk, 2010).

KESIMPULAN
Peran kegitan olahraga kesehatan dalam hubungannya dengan penyakit ini terutama terhadap golongan penyakit non-infeksi. Terhadap penyakit infeksi khususnya dalam keadaan akut, olahraga justru dapat membahayakan. Akan tetapi dalam keadaan sehat, olahraga kesehatan bahkan telah terbukti dapat meningkatkan unsur-unsur kekebalan (antibody) dalam tubuh, sehingga secara umum pelaku-pelaku olahraga kesehatan memang tidak mudah sakit.

No comments:

Post a Comment